Dialisis · Northern Heart Hospital, Penang

Cuci darah di Penang: hemodialisis, dialisis peritoneal dan akses dialisis

Cuci darah di Penang menjadi pilihan bagi banyak pasien Indonesia yang ginjalnya sudah tidak mampu bekerja cukup. Dr. Michelle Kao membantu menentukan kapan dialisis perlu dimulai, jenis yang paling sesuai, dan akses dialisis yang aman. Halaman ini menjelaskan setiap pilihan dengan bahasa sederhana.

Kapan diperlukan

Kapan cuci darah diperlukan?

Cuci darah, atau dialisis, menggantikan sebagian tugas ginjal. Prosesnya membuang limbah, kelebihan garam, dan cairan dari tubuh. Umumnya, dialisis diperlukan pada penyakit ginjal kronis stadium 5, saat eGFR di bawah 15.

Namun, keputusan memulai dialisis tidak hanya berdasarkan angka. Dokter juga menilai gejala dan kondisi tubuh, misalnya:

  • mual, muntah, dan nafsu makan hilang karena limbah menumpuk;
  • sesak napas atau bengkak berat yang tidak membaik dengan obat;
  • kadar kalium darah yang tinggi dan berbahaya bagi jantung;
  • darah terlalu asam atau tekanan darah sulit dikendalikan.

Pada gagal ginjal akut, dialisis kadang hanya dibutuhkan sementara sampai ginjal pulih. Karena itu, setiap kasus perlu dinilai oleh dokter ginjal.

Hemodialisis

Hemodialisis (HD): cuci darah dengan mesin

Pada hemodialisis, darah dialirkan dari tubuh ke mesin dialisis. Di dalam mesin, darah melewati saringan khusus yang disebut dialiser. Kemudian, darah yang sudah bersih dikembalikan ke tubuh.

Durasi dan frekuensi

Biasanya, satu sesi hemodialisis berlangsung sekitar 4 jam dan dilakukan 2–3 kali per minggu. Jadwal pastinya tergantung berat badan, sisa fungsi ginjal, dan hasil lab Anda. Selama sesi, pasien duduk atau berbaring sambil membaca, menonton, atau tidur.

Apa yang dirasakan?

Proses penyaringannya tidak terasa sakit. Namun, setelah sesi, sebagian pasien merasa lelah atau mengalami kram. Keluhan ini sering berkurang setelah tubuh beradaptasi. Selain itu, pasien HD perlu membatasi minum serta makanan tinggi kalium dan fosfat di antara sesi. Informasi tambahan tersedia di NIDDK tentang hemodialisis (bahasa Inggris).

Dialisis peritoneal

Dialisis peritoneal (CAPD/APD): cuci darah mandiri di rumah

Dialisis peritoneal memakai selaput rongga perut (peritoneum) sebagai saringan alami. Mula-mula, dokter bedah memasang selang lunak di perut. Setelah itu, cairan dialisis dimasukkan ke rongga perut, didiamkan beberapa jam, lalu dikeluarkan bersama limbah.

  • CAPD: pasien mengganti cairan sendiri sekitar 4 kali sehari. Setiap penggantian butuh kira-kira 30–40 menit.
  • APD: mesin kecil mengganti cairan secara otomatis saat pasien tidur di malam hari.

Dialisis peritoneal punya kelebihan bagi pasien yang tinggal jauh dari unit hemodialisis. Pasien tidak perlu bepergian beberapa kali seminggu. Selain itu, jadwalnya lebih fleksibel untuk bekerja atau sekolah. Namun, metode ini menuntut kebersihan yang ketat untuk mencegah infeksi. Baca juga penjelasan NIDDK tentang dialisis peritoneal.

Akses dialisis

Akses dialisis: fistula, graft, dan kateter

Hemodialisis membutuhkan "jalan masuk" ke pembuluh darah yang mampu mengalirkan darah dengan deras. Jalan masuk ini disebut akses dialisis. Ada tiga jenis utama.

Perbandingan jenis akses hemodialisis
JenisCara pembuatanCatatan
Fistula AVDokter bedah vaskular menyambung arteri dan vena di lengan.Akses jangka panjang yang paling dianjurkan; perlu beberapa minggu hingga bulan sebelum siap dipakai.
Graft AVDokter bedah memasang selang sintetis yang menghubungkan arteri dan vena.Pilihan bila pembuluh darah kurang cocok untuk fistula.
Kateter vena sentralSelang dimasukkan ke vena besar di leher atau paha.Dapat langsung dipakai; cocok untuk dialisis mendesak atau sementara.

Dr. Kao memasang sendiri kateter dialisis (kateter vena sentral) dan memantau kondisi akses dialisis pasiennya. Sementara itu, pembuatan fistula dan graft dilakukan oleh dokter bedah vaskular. Karena itu, bila Anda diperkirakan akan memerlukan hemodialisis, rencanakan fistula lebih awal.

Pasien dari Indonesia

Pasien Indonesia yang sedang menjalani HD

Banyak pasien yang sudah rutin cuci darah di Indonesia datang ke Penang untuk konsultasi atau pemeriksaan lanjutan. Agar perjalanan aman, lakukan beberapa persiapan berikut.

  • Bawa jadwal dialisis, catatan sesi terakhir, berat badan kering, dan hasil lab terbaru.
  • Catat jenis akses dialisis Anda serta riwayat infeksi atau sumbatan.
  • Tanyakan sejak awal bila Anda butuh sesi dialisis selama berada di Penang. Dialisis untuk pasien yang berkunjung dapat ditanyakan dan dikoordinasikan dengan unit rumah sakit, tergantung ketersediaan.

Perkiraan biaya cuci darah

Biaya cuci darah tergantung jenis dialisis, jumlah sesi, obat tambahan, dan rawat inap. Oleh sebab itu, harga per sesi tidak kami cantumkan di sini. Tim kami dapat membantu meminta estimasi resmi dari rumah sakit melalui WhatsApp. Sebagai gambaran, biaya konsultasi pertama dengan Dr. Kao sekitar RM 100–300; detailnya ada di halaman janji temu dan berobat ginjal ke Penang.

Tanya jawab

Pertanyaan seputar cuci darah di Penang

Jawaban singkat tentang biaya, kenyamanan, dan pilihan dialisis. Untuk penyebab gagal ginjal, baca halaman penyakit ginjal kronis.

Berapa biaya cuci darah di Penang?

Biaya cuci darah di Penang tergantung jenis dialisis, jumlah sesi, obat yang diperlukan, dan apakah pasien dirawat inap. Karena itu, kami tidak mencantumkan harga per sesi di sini. Hubungi kami via WhatsApp dengan rencana tanggal dan jumlah sesi, lalu tim rumah sakit dapat memberi estimasi.

Apakah pasien cuci darah dari Indonesia bisa dialisis di Penang?

Dialisis untuk pasien yang sedang berkunjung dapat ditanyakan ke unit dialisis rumah sakit. Ketersediaan slot tergantung jadwal unit. Jadi, hubungi kami beberapa minggu sebelum berangkat dan siapkan catatan dialisis dari unit Anda di Indonesia.

Apakah cuci darah terasa sakit?

Proses penyaringan darah sendiri tidak terasa sakit. Namun, pasien bisa merasakan tusukan jarum saat fistula dipakai. Sebagian pasien juga mengalami kram otot, pusing, atau lelah setelah sesi, terutama bila banyak cairan yang ditarik. Keluhan ini biasanya bisa dikurangi dengan menyesuaikan pengaturan dialisis.

Apa beda hemodialisis dan dialisis peritoneal?

Hemodialisis menyaring darah dengan mesin di unit dialisis, biasanya 3 kali seminggu. Sebaliknya, dialisis peritoneal memakai selaput perut sebagai saringan dan dilakukan sendiri di rumah setiap hari. Keduanya sama-sama efektif bila dijalankan dengan benar. Pilihan terbaik tergantung kondisi medis, tempat tinggal, dan gaya hidup Anda.

Layanan lain

Layanan dokter ginjal lainnya

Semua layanan

Rencanakan dialisis sebelum mendesak.

Diskusikan pilihan cuci darah dan akses dialisis sejak dini. Dengan begitu, Anda dan keluarga punya waktu untuk memutuskan dengan tenang.

WhatsApp