Nefrologi · Northern Heart Hospital, Penang

Pengobatan penyakit ginjal kronis (CKD) di Penang

Penyakit ginjal kronis adalah penurunan fungsi ginjal yang berlangsung lebih dari tiga bulan. Kondisi ini sering tidak terasa sampai tahap lanjut. Di Northern Heart Hospital, Dr. Michelle Kao membantu pasien memahami stadium penyakitnya, lalu menyusun rencana untuk memperlambat kerusakan ginjal.

Mengenal CKD

Apa itu penyakit ginjal kronis?

Ginjal menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah, lalu membuangnya lewat urine. Selain itu, ginjal mengatur tekanan darah, kadar garam, dan pembentukan sel darah merah. Pada penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease atau CKD), kemampuan ini menurun secara perlahan.

Dokter menyebut seseorang mengalami CKD bila fungsi ginjalnya turun atau ada tanda kerusakan ginjal selama lebih dari tiga bulan. Tanda kerusakan itu misalnya protein dalam urine atau kelainan pada USG. Jadi, CKD berbeda dengan gagal ginjal akut, yang terjadi mendadak dalam hitungan jam atau hari.

Penyebab utama penyakit ginjal kronis

  • Diabetes. Gula darah tinggi dalam jangka panjang merusak saringan kecil di ginjal. Kondisi ini disebut nefropati diabetik.
  • Hipertensi. Tekanan darah tinggi melukai pembuluh darah ginjal. Sebaliknya, ginjal yang rusak juga menaikkan tekanan darah.
  • Glomerulonefritis. Peradangan pada glomerulus, yaitu unit penyaring ginjal.
  • Penyakit ginjal polikistik. Kelainan bawaan yang menimbulkan banyak kista di kedua ginjal.
  • Obat-obatan. Misalnya, pemakaian obat antinyeri golongan NSAID secara rutin dalam waktu lama.

Gejala

Gejala penyakit ginjal kronis yang sering diabaikan

Pada stadium awal, CKD hampir selalu tanpa gejala. Ginjal memiliki cadangan fungsi yang besar, sehingga tubuh tetap terasa normal. Karena itu, banyak pasien baru mengetahui penyakitnya dari cek darah rutin.

Ketika fungsi ginjal makin rendah, keluhan berikut mulai muncul:

  • bengkak di kaki, pergelangan kaki, atau kelopak mata;
  • mudah lelah, lemas, dan sulit berkonsentrasi karena anemia;
  • urine berbusa, yang bisa menandakan protein bocor ke urine;
  • sering buang air kecil di malam hari;
  • kulit gatal, mual, dan nafsu makan turun pada stadium lanjut;
  • sesak napas karena cairan menumpuk.

Gejala tersebut tidak khas dan bisa disebabkan kondisi lain. Jadi, cara paling pasti untuk menilai ginjal adalah lewat tes darah dan urine.

Stadium

5 stadium CKD menurut eGFR

Dokter membagi penyakit ginjal kronis menjadi lima stadium berdasarkan eGFR, yaitu perkiraan kecepatan ginjal menyaring darah. Pembagian ini mengikuti pedoman internasional KDIGO.

Stadium penyakit ginjal kronis berdasarkan eGFR (ml/menit/1,73 m²)
StadiumeGFRArtinya
G1≥ 90Fungsi penyaringan normal, tetapi ada tanda kerusakan (misalnya protein urine).
G260–89Penurunan ringan disertai tanda kerusakan ginjal.
G3a45–59Penurunan ringan sampai sedang.
G3b30–44Penurunan sedang sampai berat; risiko komplikasi meningkat.
G415–29Penurunan berat; saatnya membahas persiapan dialisis atau transplantasi.
G5< 15Gagal ginjal; umumnya perlu cuci darah atau transplantasi.

Selain eGFR, dokter juga menilai kadar albumin dalam urine (UACR). Semakin banyak albumin yang bocor, semakin tinggi risiko ginjal memburuk. Penjelasan lengkap tentang pedoman ini tersedia di situs KDIGO dan NIDDK (bahasa Inggris).

Pemeriksaan

Pemeriksaan di klinik Dr. Kao

Pada kunjungan pertama, Dr. Kao menanyakan riwayat penyakit, obat yang diminum, dan riwayat keluarga. Kemudian, beliau memeriksa tekanan darah dan tanda penumpukan cairan. Setelah itu, beliau biasanya meminta beberapa pemeriksaan berikut:

  • Tes darah: kreatinin, eGFR, ureum, elektrolit, hemoglobin, gula darah, dan kolesterol.
  • Tes urine: rasio albumin-kreatinin (UACR) dan sedimen urine untuk mencari darah atau sel radang.
  • USG ginjal: untuk melihat ukuran, bentuk, dan adanya kista atau sumbatan.
  • Biopsi ginjal: bila penyebabnya belum jelas. Baca selengkapnya di halaman biopsi ginjal di Penang.

Karena itu, bawalah semua hasil lab lama. Tren eGFR dari waktu ke waktu sering lebih bermakna daripada satu angka saja.

Pengobatan

Tujuan pengobatan penyakit ginjal kronis

Pengobatan CKD tidak hanya soal obat. Tujuan utamanya adalah memperlambat penurunan fungsi ginjal, mencegah komplikasi, dan melindungi jantung. Rencana setiap pasien berbeda, tetapi umumnya mencakup hal berikut.

  • Mengendalikan tekanan darah. Target tekanan darah disesuaikan dengan kondisi Anda.
  • Mengendalikan gula darah pada pasien diabetes.
  • Obat pelindung ginjal. Misalnya, golongan ACE inhibitor atau ARB, serta SGLT2 inhibitor bila sesuai. Obat ini dapat mengurangi protein urine dan memperlambat kerusakan ginjal.
  • Pola makan. Mengurangi garam, mengatur asupan protein, dan membatasi kalium atau fosfat bila kadarnya tinggi.
  • Meninjau obat lain. Beberapa obat perlu disesuaikan dosisnya, sedangkan obat yang merusak ginjal sebaiknya dihindari.
  • Menangani komplikasi, seperti anemia, gangguan tulang, dan asam darah berlebih.

Jangan menghentikan atau mengganti obat tanpa berdiskusi dengan dokter. Sebab, beberapa obat ginjal bekerja perlahan dan manfaatnya baru terlihat setelah dipakai rutin.

Tahap lanjut

Kapan perlu persiapan dialisis atau transplantasi?

Saat eGFR mendekati stadium 4, Dr. Kao mulai membahas pilihan terapi pengganti ginjal. Persiapan sejak awal memberi waktu bagi pasien dan keluarga untuk memilih dengan tenang. Selain itu, akses dialisis seperti fistula perlu waktu berminggu-minggu sebelum siap dipakai.

Pilihannya meliputi hemodialisis, dialisis peritoneal di rumah, transplantasi ginjal, atau perawatan konservatif tanpa dialisis. Penjelasan setiap pilihan ada di halaman cuci darah di Penang dan transplantasi ginjal.

Kaitan ginjal dan jantung

Pasien CKD memiliki risiko penyakit jantung yang lebih tinggi daripada populasi umum. Bahkan, penyakit jantung adalah salah satu penyebab utama komplikasi serius pada pasien ginjal. Riset MD Dr. Kao membahas hubungan ini secara khusus. Oleh sebab itu, beliau juga memperhatikan tekanan darah, kolesterol, dan kesehatan jantung pasien selama pengobatan CKD.

Tanya jawab

Pertanyaan seputar pengobatan gagal ginjal di Penang

Jawaban singkat untuk pertanyaan yang sering diajukan pasien Indonesia yang berobat ginjal ke Penang. Info jadwal ada di halaman janji temu.

Apakah penyakit ginjal kronis bisa sembuh?

Umumnya, kerusakan ginjal pada penyakit ginjal kronis bersifat menetap. Namun, pengobatan yang tepat dapat memperlambat penurunan fungsi ginjal secara bermakna. Pada sebagian kasus, misalnya glomerulonefritis yang diobati sejak dini, fungsi ginjal bahkan bisa membaik. Karena itu, diagnosis dan kontrol rutin sangat penting.

Berapa biaya konsultasi dokter ginjal di Penang?

Sebagai perkiraan, konsultasi pertama sekitar RM 100–300, belum termasuk pemeriksaan darah, urine, atau USG. Selain itu, pasien asing dikenai SST 6%. Biaya akhir tergantung pemeriksaan yang Anda perlukan, jadi tanyakan estimasi via WhatsApp sebelum berangkat.

Dokumen apa yang perlu dibawa saat konsultasi?

Bawalah paspor, hasil lab terakhir (kreatinin, eGFR, ureum, elektrolit, tes urine), hasil USG ginjal, dan daftar semua obat yang sedang diminum. Kemudian, sertakan surat rujukan atau ringkasan medis bila ada. Hasil lab lama juga berguna, karena dokter bisa melihat tren fungsi ginjal Anda.

Apakah saya perlu kontrol rutin ke Penang?

Itu tergantung stadium dan kestabilan penyakit Anda. Pada stadium awal, kontrol bisa berjarak beberapa bulan. Sementara itu, pada stadium lanjut, pemantauan perlu lebih sering. Sebagian pemeriksaan darah dapat dilakukan di Indonesia, lalu hasilnya dikirim untuk ditinjau saat jadwal kontrol berikutnya.

Semakin dini, semakin banyak yang bisa dilakukan.

Kirim hasil kreatinin dan eGFR terakhir Anda via WhatsApp. Kemudian, tim kami membantu mengatur jadwal konsultasi dengan Dr. Kao.

WhatsApp